Catatan Ringan: “Kembang-Kempis” Kasus Upah Pungut Bapenda di Kejari Pekanbaru
Illustrasi

Catatan Ringan: “Kembang-Kempis” Kasus Upah Pungut Bapenda di Kejari Pekanbaru

Kasus pencairan kasus upah (insentif-red) di Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Pekanbaru, masih belum hilang dari ingatan. Obrolan ‘kuli tinta’ di warung kopi masih kerap diperbincangkan.

“Apa kabar kasus insentif di Bapenda Kota Pekanbaru,” gumam pewarta yang suka nongkrong di Warung Kopi Klasik, enggan dituliskan namanya, kepada ESCO, (12/3/2020) siang.

Nimbrung dengan obrolan tersebut, akrab disapa Ajo sehari-sehari berprofesi marketing Kendaraan Roda 4 (empat) itu mengaku sempat mendengar pemberitaan itu memyeruak di permukaan.

Bahkan, Ajo menanyakan kasus tersebut bagi mereka pewarta saban hari nongkrong ‘bareng ngopi’.

“Apa info soal itu,” ia menanyakan dengan nada bercanda.

Pertanyaan tu, pun, membuat para kuli tinta saling bertatapan mata, tak mampu mampu menjawab akhir cerita kasus uang pungut Bapenda tersebut. “Masa boda ah,” celetuk pewarta yang lain.

Kasus.uang pungut (insentif-red) Bapenda Pekanbaru itu,  mencuat di sejumlah media online. Saking kencangnya, sejumlah pejabat Bapenda Kota Pekanbaru, dibuat ketar-ketir. Sejumlah pemberitaan itu, direspon pihak penegak hukum. Alhasil, ada 7 ( tujuh) orang saksi diperiksa termasuk Kepala Dinas Badan Pendapatan Kota Pekanbaru, Zulhelmi dimintai keterangan pihak Kejari Pekanbaru.

Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasipidsus) Kejari membenarkan dan tak menampik pihaknya menyelediki kasus uang pungut. “Ya benar, Masih kita mintai keterangan dulu,” kata Kasipidsus Yuriza Antoni ketika disambangi di ruangannya di Kantor Kejari ketika di awal dimulainya pemanggilan sejumlah pihak di kasus “uang pungut’ Bapenda tersebut beberapa waktu lalu.

Cepatnya direspon kasus uang pungut, cukup.diapresiasi sejumlah kalangan. Adalah Ketua Umum LSM Lembaga Independen Pembawa Suara Pemberantas Korupsi Kolusi Kriminal Ekonomi Republik Indonesia (Lembaga IPSPK3-RI),  Ganda Mora.menyumbang tanggapannya.

“Awalnnya kasus ini cukup berkembang dan sangat kencang di permukaan diangkat oleh media. Kita pun mengapresiasi rekan media. Pun, kejari menyambutnya. Sekarang, belum dapat info perkembangan dari media,” kicau Ganda, Kamis, (12/3/2020).

Menurut Ganda, pihaknya meminta ekspos soal perkembangan kasus ini. “Jangan pula awalnya anginnya mengembang begitu kencang, di akhir kempis bagaikan balon hilang kehilangan angin,”  sindir Ganda.

Sejauh ini, pihak Kejari Pekanbaru belum memberi penjelasan terkait perkembangan kasus “upah pungut” di Bapenda Kota Pekanbaru. Saat pesan elektronik whatsapp dikirim, Kamis, (12/3/2020) siang menanyakan hal tersebut ke Kasipidsus Yuriza Antoni , belum berhasil memberi tanggapannya.

Diikutip dari sebuah media online, diketahui ada pencairan insentif (upah pungut) bagi pejabat Bapenda Pekanbaru dan staf dilakukan pada 9 Oktober 2019 dari Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Kota Pekanbaru.

Tehnis pencairan, dana ditransfer langsung ke rekening masing-masing penerima (pejabat dan staf Bapenda). Totalnya disebutkan sebesar Rp 9 miliar. Uang ditransfer ke 30 orang pegawai.

Dari jumlah tersebut, 29 orang, kecuali pegawai dengan inisial MIY, menyetorkan sejumlah uang dengan total Rp1.310.000.000.

Yang sudah ditarik diserahkan sebesar Rp 1,3 miliar kepada Zulhelmi. Selanjutnya oleh Zulhelmi diserahkan ke Walikota Pekanbaru sebelum melakukan perjalanan ke Qatar. (*)

CATEGORIES
TAGS