Home Serambi Jakarta

Orang Tua Bantah Jenazah Anaknya Diambil Paksa, Firdaus: Ada yang Tak Beres dengan JKN

Lihat Foto
×
Orang Tua Bantah Jenazah Anaknya Diambil Paksa, Firdaus: Ada yang Tak Beres dengan JKN

ESCO, Padang - Dewi Suriani orang tua Khalif Putra, bayi yang meninggal dunia setelah mengalami kelenjar getah bening dan jenazahnya sempat tertahan di Rumah Sakit Umum Pusat M Djamil melaporkan pihak rumah sakit tersebut kepada Ombudsman Sumbar atas berlarutnya penanganan anaknya. "Jadi pada hari ini orang tua Khalif mendatangi Ombudsman dan meminta persoalan ini diselesaikan," kata Asisten Ombudsman perwakilan Sumbar Adel Wahidi di Padang, Rabu, 20 November 2019. Menurut dia, sebagaimana diceritakan Dewi ada beberapa fakta yang belum terungkap ke publik dalam kejadian ini, salah satunya adalah saat Khalif dibawa paksa ia berada di kamar jenazah. "Kalau informasi yang beredar jenazah diambil paksa tanpa sepengetahuan orang tua itu tidak benar," ucapnya. Pada sisi lain, ia menceritakan Dewi sudah mengurus sejak pagi proses kepulangan jenazah anaknya. Tapi ia merasa di-"pingpong" sana sini dan dalam pengurusan dibantu oleh para pengendara ojek daring yang merupakan teman dari keluarga Dewi. Awalnya, Dewi disuruh ke bagian kamar jenazah ternyata tidak ada orang, lalu disuruh ke bangsal, ternyata harus menunggu dokter, selanjutnya mengurus lagi ke bagian keuangan hingga pukul 12.00 WIB belum selesai padahal anaknya meninggal pukul 09.00 WIB. Malah menurut pengakuan keluarga urusan baru bisa rampung pukul 13.00 WIB atau empat jam jenazah tertahan. Artinya lanjut Adel peristiwa pengendara ojek daring membawa paksa jenazah tidak berdiri sendiri melainkan ada proses yang sudah dilewati keluarga terlebih dahulu, namun terasa terlalu lama. Oleh sebab itu keluarga meminta Ombudsman memediasi lamanya proses pengurusan jenazah hingga waktu keluar. Sementara itu, Pengamat hukum kesehatan dari Universitas Eka Sakti Padang, Firdaus Diezo menilai kasus ini  memperlihatkan jaminan kesehatan nasional (JKN) bagi keluarga tidak mampu masih dipertanyakan.

"Ini yang menjadi pertanyaan. Kenapa keluarga miskin tidak ter-cover oleh JKN, sehingga mereka tidak mampu membayar biaya rumah sakit," kata Firdaus Diezo, Rabu (20/11/2019). Menurut Firdaus, tidak masuknya keluarga bayi yang meninggal dunia di RSUP M Djamil Padang mengindikasikan ada yang tidak beres dalam program JKN. Ada dua kemungkinan alasan keluarga tersebut tidak masuknya dalam program JKN Kartu Indonesia Sehat (KIS), yaitu karena tidak terdata oleh pemerintah atau memang keluarga tidak tahu program JKN-KIS itu. "Namun, yang jelas ada yang tidak beres. Apakah mereka tidak terdata atau tidak tahu. Kalau tidak tahu, berarti sosialisasi bisa jadi kurang," kata Firdaus. Menurut Firdaus, program jaminan kesehatan ini di Sumbar berlapis. Ada dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah, ant, trb


Komentar Via Facebook :