Home OPINI

Siasat Media Massa Berselancar di Tengah Algoritma dan Tetek Bengeknya

Lihat Foto
×
Dok: Is
Siasat Media Massa Berselancar di Tengah Algoritma dan Tetek Bengeknya

Dok: Is

MEDIA massa kini berada di persimpangan jalan apalagi media arus utama. Perkembangan teknologi digital telah mengubah sepak-terjang media massa. 

Nilai berita (news value) kini tidak lagi menjadi ukuran. 

Frasser Bond dalam "An Introduction to Journalism" menyebutkan empat faktor utama yang memengaruhi nilai berita. 

Pertama, ketepatan waktu (timeliness). Pembaca, pendengar atau penonton menginginkan berita yang selalu baru atau aktual.

Kedua, kedekatan tempat kejadian (proximity). Khalayak tertarik kepada peristiwa yang dekat dengan dirinya dari segi tempat atau perhatian ketimbang kejadian yang berjarak bermil-mil dari dirinya atau lokasi tempat tinggalnya.

Ketiga, besarnya (size). Sesuatu yang sangat kecil maupun besar selalu memikat perhatian banyak orang. Ini menyangkut jumlah.

  • Perlu Dibaca :

    ...

Keempat, kepentingan (importance). Orang menyukai hal-hal yang sesuai dengan kepentingan dirinya. Pembaca, pendengar atau penonton tertarik suatu kejadian karena ada kepentingannya di sana.

Selain keempat faktor utama tadi, Frasser Bond menyebutkan ada 12 faktor lainnya seperti minat pribadi, uang, seks, pertentangan atau konflik, hal-hal yang luar biasa, kepahlawanan dan termasyur, kegelisahan, kemanusiaan, kejahatan, penemuan dan pendapat, kontes hingga kejadian yang memengaruhi organisasi-organisasi penting.
  
Sekarang yang berkuasa adalah algoritma bukan lagi nilai berita. Di dalamnya ada keyword. Ada pula SEO (search engine optimazation) dan tetek bengeknya. 

Algoritma dalam jurnalisme. Salah satunya adalah penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan data untuk memproduksi, mendistribusikan dan mempersonalisasi konten berita secara cepat dan masif. Algoritma disebut dapat membantu efisiensi redaksi.        

Intinya, Algoritma melalui AI mampu menulis berita berbasis data. Malah, lebih cepat dan dalam skala besar. Selain itu, juga dapat membantu menyajikan berita yang disesuaikan dengan minat pembaca. 

Ditambah lagi, algoritma bisa menentukan konten yang viral di media massa, memengaruhi distribusi berita dan memaksa media digital beradaptasi.

Persoalannya sekarang apakah dengan Algoritma itu dapat diharapkan informasi yang akurat, jujur dan membawa manfaat bagi pembaca, penonton atau pendengar?    

Karena jujur saja masyarakat sekarang ini tidak saja membutuhkan informasi yang secepat kilat atau real time. Namun lebih dari itu, masyarakat menginginkan informasi akurat, jujur dan memberi harapan bahkan manfaat bagi pembacanya. 

Sebab, bagaimana sebuah kemajuan tetap saja teknologi informasi yang berkembang pesat itu hanyalah alat bantu dan bukan penentu. Karena toh teknologi informasi itu dikomando oleh pengelola media massa yang memiliki nurani.

Bisa dikatakan bahwa jurnalisme berisiko kehilangan makna serta kepercayaan masyarakat jika sepenuhnya menggantukan kepada kemajuan teknologi informasi seperti penggunaan Algoritma tanpa hati nurani.

Asal tahu saja Indonesia merupakan pasar digital terbesar di Asia Tenggara. Masuk akal memang karena lebih dari 80 persen penduduk terhubung internet dan rata-rata mengakses media sosial hampir tiga jam per hari. 

Terkait media sosial. Diakui atau tidak penggunaan di media sosial meroket. Sekadar catatan saja: pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 143,26 juta jiwa. 54,68 persen dari total populasi sebanyak 87,13 persen mengakses media sosial. Parahnya lagi apa yang viral di media sosial dalam kenyataannya dianggap publik sebagai sebuah kebenaran dan menjadi rujukan.

Semua informasi kini sudah berada di smartphone. Mau cari berita apa; sudah tersedia di tangan. Asal paket internet cukup, pembaca sudah bisa selancar ke mana-mana. Luar biasa! Teknologi komunikasi telah mengubah keadaan.

Di media sosial, setiap orang bisa menjadi jurnalis, editor bahkan pemimpin redaksi dalam memproduksi kontennya. Sayangnya seperti telah disebut di atas kondisi itu malah menciptakan sebuah kegaduhan atau ketakutan dan pesimisme.

Nah! Dalam konteks ini media massa harus berperan sebagai penjernih informasi, bukan malah menambah kebisingan di ruang publik apalagi ikut menyebarluarkan berita bohong atau hoaks. 

Dalam kaitan ini maka media massa sudah sepatutnya menjadi sarana edukasi publik, penjaga etika dan integritas di ruang digital, serta pelindung martabat manusia dengan menghindari praktik pemberitaan yang melukai dan melanggar privasi.

Artinya, media massa (baca: media arus utama) diharapkan menjadi rumah penjernih informasi, menyajikan informasi yang terverifikasi, menjalankan peran sebagai communication of hope untuk memberikan harapan besar kepada pembacanya.

Di tengah menguatnya budaya siber (cyberculture) di mana orang tidak lagi tergantung kepada media cetak seperti koran misalnya; orang mulai terbiasa bangun tidur lalu mencari telepon genggam atau gadget untuk mengabari dirinya melalui mengetik status atau kerajingan melihat status teman-temannya maka tiada pilihan lain bagi media cetak untuk mau tidak mau mengikuti perubahan karakter pembaca tersebut.

Shawn Wilbur (1997) menjelaskan bahwa melalui fasilitas web memungkinkan adanya kontak yang halus (ethereal contact) bahwa seseorang akan menemukan efek dalam kehidupan mereka ketika berhubungan dengan cyberspace. Sebab, karakteristik dunia virtuall bisa menghasilkan efek dan di sisi lain ia juga menjadikan dirinya sebagai sebuah efek.

Hubungan antarindividu di dunia virtual bukanlah sekadar hubungan yang dikatakan sebagai "substanceless hallucination" semata; pada dasarnya hubungan tersebut ternyata secara nyata, memiliki arti dan juga bisa berdampak atau berlanjut pada kehidupan yang sesungguhnya. 

Dalam konteks ini maka cyberspace merupakan ruang konseptual di mana semua kata, hubungan manusia, data, kesejahteraan dan juga kekuatan dimanifestasikan oleh setiap orang melalui teknologi CMC atau Computer Mediated Communication.

Dari sisi jurnalistik, kehadiran media online telah memunculkan trend berita pendek, cepat namun kehilangan kedalaman dan konteks. 

Di tengah rimba berita dan informasi yang membuat orang mudah tersesat maka peran jurnalistik sebagai gatekeeper yang secara tradisional melekat dalam media massa tetap dibutuhkan pembaca: memilih isu yang penting dan bermanfaat namun sekaligus menarik dan menghibur.

Karena asal tahu saja tekanan untuk mengikuti algoritma (SEO/tranding) dalam kenyataannya kerap menurunkan kualitas konten serta mendorong makin liarnya penggunaan clickbait terutama dalam penggunaan judul berita.    

Yang pasti diakui atau tidak, media arus utama haruslah berubah lebih inovatif agar survive. Beberapa studi kasus di Amerika Serikat, media arus utama seperti koran bisa bertahan dan bahkan berkembang di tengah era digital.

 

Ada tiga yang patut dicermati pengelola media arus utama di samping  menjadi rumah penjernih informasi, menyajikan informasi yang terverifikasi, menjalankan peran sebagai communication of hope untuk memberikan harapan besar kepada pembacanya.

Pertama, tiada pilihan lain bagi media arus utama untuk memperkuat kualitas jurnalistik. 

Media arus Utama bisa bertahan dengan memperkuat mutu jurnalistik bahkan menemukan diri lebih menonjol ketika banyak pesaing tumbang secara bisnis terengah-engah atau mengabaikan kualitas jurnalistik demi mengerahkan sebagian besar resources ke digital. Memanfaatkan kelemahan media online menjadi salah satu untuk mengubah diri.

Kedua,  sudah saatnya media arus utama membuat sinergi optimal dengan media online. Artinya, media massa ikut juga membangun media online. Artinya, kehadiran secara online dapat memperkuat brand edisi cetak sekaligus meningkatkan value iklannya. 

Potensial menangguk pendapatan dari cetak maupun online sekaligus. Sejumlah media arus utama seperti media cetak sudah menerapkan konsep ini. Pemasang iklan dapat memasang iklan secara bersamaan di media cetak dan online. Sebuah sinergi positif yang dapat dilakukan  agaknya.

Ketiga, media arus utama juga harus mengintensifkan engagement dengan pembaca. Ini dapat diartikan membangun komunitas. Dalam beberapa hal itu berarti melayani minat/orientasi yang spesifik, lokal dan segmented. Bangunlah keterikatan dengan pembaca. 

Akhirnya media massa diharapkan menjadi rumah penjernih informasi dibalut dengan penyajian informasi yang terverifikasi ditambah menjalankan peran utamanya sebagai communication of hope. Bukan malah sebaliknya menjadi 'tukang kompor' sehingga persoalan menjadi besar. Tetapi media massa mampu memberikan harapan besar kepada pembaca. Ya, semoga! 

Penulis: Norman Meoko/Wartawan Utama
Dosen dan Mantan Pemred Harian Sinar Harapan - Jakarta


Komentar Via Facebook :

Berita Terkait :