Home News Hukum

Aktivitas Dugaan Perdagangan Manusia ke Malaysia Jalur Pulau Rupat Ditangkap

Lihat Foto
×
Aktivitas Dugaan Perdagangan Manusia ke Malaysia Jalur Pulau Rupat Ditangkap

Pekanbaru-Penyelundupan dengan modus mengirim tenaga kerja Indonesia (TKI) ke Malaysia seakan pantang surut. Ditengah Malaysia memberlakukan 'lockdown' dampak mewabahnya virus corona, aktivitas illegal itu tercium Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Riau dan berhasil digagalkan. Penyelundupan TKI itu, dilakukan salah satu pulau terluas Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.

Aktivitas ilegal penyelundupan manusia terus berlangsung ke Malaysia, meski negeri jiran itu memberlakukan karantina wilayah atau Lockdownakibat wabah COVID-19. Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Riau menggagalkan aksi perdagangan orang berupa penyelundupkan tenaga kerja Indonesia (TKI) ke Malaysia melalui Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis.

Kepala Bidang Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto menjelaskan hasil penangkapan terdapat sejumlah orang diamankan.  Kemudian, Pulau Rupat dijadikan jaringan penyelundupan karena jarak tempuh hanya memakan waktu tidak terlalu lama.

"Ada 15 orang diamankan dalam penangkapan itu. Selain itu, ada dua warga India yang turut berniat masuk ke Malaysia via jalur laut secara ilegal menggunakan kapal cepat. Jaringan ini menjadikan Pulau Rupat, Bengkalis, sebagai tempat penyeberangan manusia ke Malaysia karena jarak lebih dekat, ditempuh 30 menit saja," ujar Narto seperti dilansir antaranews.com, Rabu, (8/4/2020)

Ia mengatakan, terungkapnya aktivitas illegal pada akhir pekan lalu, ketika sebanyak 17 (tujuh belas) orang korban perdagangan  ditemukan telah ada di dalam kapal kecil fiber dan siap untuk diberangkatkan ke Malaysia dari Desa Sungai Cingam, Rupat, Bengkalis, akhir Maret 2020 lalu.

Dikatakan Narto, pelaku Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) ini merupakan jaringan internasional melibatkan warga dari tiga negara, India, Malaysia dan Indonesia. " Modusnya, para pelaku membujuk rayu para calon korbannya dengan meyakinkan bisa memberangkatkan ke Malaysia secara resmi legal dan dipekerjakan dengan gaji besar," tutur Narto.

Bujuk rayuan itu lanjut Narto, berbanding terbalik dengan kenyataan. "Mereka diberangkatkan lewat jalur ilegal melalui perairan Selat Morong, Pulau Rupat, Bengkalis. Perairan ini sangat membahayakan bagi jiwa calon tenaga kerja karena terkenal akan gelombang yang tidak bersahabat," katanya.

Disebutkan Narto, para korban 'dibandrol' dharganya dengan harga bervariasi.

"Dua calon asal India Rp8-10 juta per orang dan TKI Rp2,5 hingga Rp 3 juta per orang," ia merinci.

"Pengungkapan ini merupakan hasil pengembangan penyelidikan dilakukan Polda Riau pasca tenggelamnya kapal speedboat membawa TKI ilegal dari Indonesia ke Malaysia, akhir Januari 2020 silam mengakibatkan 10 orang tewas, di Tanjung Medang, perairan Pulau Rupat, Bengkalis," Sunarto menambahkan.

Sementara itu, Direktur Reserse dan Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Riau, Kombes Pol Zain Dwi Nugroho mengatakan pihaknya membutuhkan waktu cukup lama sebelum benar-benar berhasil mengungkap jaringan internasional itu. Bahkan, polisi hingga harus melakukan penyamaran ke tengah laut untuk mengumpulkan data dan informasi.

Dari pengungkapan itu, polisi menangkap lima pelaku yang bertugas sebagai tekong dan awak kapal atas nama AM alias Ahmad, AR alias Abdul dan KH alias Irul. Tidak lama kemudian Polisi menangkap dua pelaku lainnya, terdiri seorang perempuan sebagai agen perekrut atas nama HL alias Lina dan SP alias Pian otak utama (koordinator) perdagangan orang via Pulau Rupat.

"Pelaku yang menyeberangkan tenaga kerja ilegal tersebut diduga penduduk asli Pulau Rupat, bertempat tinggal di Pangkalan Buah, Desa Sungai Cingam, Kecamatan Rupat. Pelaku menyelundupkan korban gunakan speedboat kecepatan tinggi melalui Selat Morong menuju Malaysia," kata Kombes Zain Dwi Nugroho.

Mantan Kapolresta Sidoarjo, Jawa Timur ini menjelaskan, pelaku utama perdagangan manusia ini adalah SP alias Pian. Ia bertugas sebagai bos dan koordinator menyediakan penampungan sementara bagi calon korban. Tak hanya itu, pelaku juga menyiapkan transportasi angkutan menjemput calon korban dari Dumai.

"SP juga menyediakan speed boat membawa korban ke Malaysia, serta penanggung jawab memberangkatkan korban dari Pangkalan Buah, Desa Sungai Cingam ke Malaysia dan sebaliknya," jelas Zain.

Seorang perempuan, HL, beber Direskrimum, bertugas merekrut dan membujuk rayu calon korban. Wanita ini juga menarik uang dari calon korban, kemudian membawanya ke penampungan milik SP. Kini, Polda Riau tengah mengejar 21 pelaku lainnya sebagian di antaranya WNA.

Zain Dwi Nugroho menjelaskan, sekali memberangkatkan manusia dari Rupat ke Malaysia, pelaku menargetkan harus ada minimal 15 orang. Jika belum sampai target tersebut, para calon korban ditaruh di penampungan milik SP.

"Pelaku dikenai ancaman hukuman penjara paling singkat 3 tahun, paling lama 15 tahun. Mereka melanggar Pasal 2 atau Pasal 4 Jo Pasal 10 UU RI No 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan pasal 5 Jo pasal 68 Jo pasal 83 UU RO Nomor 18 tahun 2017 tentang Tindak Pidana Pelindungan Pekerja Migran Indonesia," jelas Zain.

Direskrimum Polda Riau berpesan kepada masyarakat agar tidak mudah percaya dengan segala bentuk bujuk rayu terkait pekerjaan ke luar negeri tanpa adanya kelengkapan dokumen asli dan jalur resmi yang ditetapkan Pemerintah. Ant/*)


Komentar Via Facebook :