Home • News •
Dua Puluh Lima Tahun Pembantaian Srebrenica Diperingati Umat Muslim Bosnia
×
×
Jakarta - Peristiwa 25 Juli 1995 hari bersejarah bagi Umat Muslim Bosnia. Kala itu, Srebrenica dikepung pasukan Serbia membunuh lebih dari 8.000 pria dan anak lelaki muslim. Ditengah Pandemi Virus Corona (Covid-19), 25 tahun peristiwa pembantaian Srebrenica itu ditandai oleh Umat Muslim Bosnia pada Sabtu (11/7) waktu setempat.
Memperingati setiap tahuannya, para pelayat sedikit turun seiring larangan untuk tidak berkumpul karena mencegah penyebaran Covid-19. "Sulit ketika kau melihat seseorang memanggil ayah mereka dan kau tidak memilikinya," kata Hasanovic sambil menangis, dilansir Cnn Indonesia mengutip dari AFP, Minggu (12/7).
Kisah Hasanovic mengingat ayahnya, Semso pergi ke hutan dan tidak pernah kembali. Hanya beberapa tulang yang ditemukan," sedihnya. Dikisahkan, pasukan Serbia Bosnia dipimpin Ratko Madic di wilayah Srebrenica secara sistematis membantai pria dan remaja kala itu.
Selama Perang Bosnia, Srebrenica dikepung oleh pasukan Serbia antara 1992 dan 1995. Saat itu, milisi Serbia mencoba merebut wilayah dari Muslim Bosnia dan Kroasia untuk membentuk negara mereka sendiri. Pada 1993 Dewan Keamanan PBB telah menyatakan Srebrenica sebagai "daerah aman".
Namun, pasukan Serbia yang dipimpin oleh Jenderal Ratko Mladic yang sekarang menghadapi tuduhan genosida di Den Haag menyerbu zona PBB meskipun kehadiran sekitar 450 Belanda tentara yang ditugaskan untuk melindungi warga sipil yang tidak bersalah sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB.
Pasukan Belanda gagal bertindak ketika pasukan Serbia menduduki daerah itu, hingga menewaskan sekitar 2.000 pria dan anak laki-laki. Sekitar 15 ribu pria Srebrenica melarikan diri ke pegunungan di sekitarnya tetapi pasukan Serbia memburu dan membantai 6.000 dari mereka di hutan. Sejauh ini, hampir 6.900 korban telah ditemukan dan diidentifikasi dari lebih dari 80 kuburan massal.
Menjelang peringatan, Presiden Serbia Aleksandar Vucic menggambarkan Srebrenica sebagai "sesuatu yang seharusnya tidak dan tidak bisa kita banggakan", tetapi dia tidak pernah secara terbuka mengucapkan kata "genosida".
Beberapa ribu orang Serbia dan Muslim hidup berdampingan di Srebrenica yang miskin, sebuah kota di Bosnia timur dengan hanya beberapa toko di pusatnya. Pada Jumat kemarin, Walikota Serbia, Mladen Grujicic - yang terpilih pada 2016 setelah kampanye berdasarkan penolakan genosida - mengatakan bahwa "ada bukti baru setiap hari yang menyangkal kejadian tersebut."
Pemimpin politik Serbia, Milorad Dodik, juga menggambarkan pembantaian itu sebagai "mitos". Namun, anggota Muslim dari kepresidenan Bosnia, Sefik Dzaferovic menanggapi hal itu dengan menyatakan "Kami akan berperang melawan mereka yang menyangkal genosida dan memuliakan para pelakunya."
Keesokan harinya, pernyataannya itu didukung oleh mufti besar Bosnia Husein Kavazovic. "Terlepas dari semua yang telah terjadi, hidup terlahir kembali di Srebrenica," kata Kavazovic, pada Sabtu ini.
"Masa lalu yang sulit dapat menjadi kesempatan untuk saling mengenal lebih baik dan membangun masa depan yang lebih baik jika kita menerima kebenaran sebagai pedoman," tambahnya. Untuk menghindari kerumunan besar pada hari peringatan 25 tahun ini, penyelenggara pun mengatakan bahwa setiap orang dapat mengunjungi pusat peringatan sepanjang bulan Juli, tidak hanya pada Sabtu (11/7) ini saja. (Cnni/SC-01).
[xyz-ips snippet="iklan"]


Komentar Via Facebook :