Kepala Bappeda Siak Bersaksi, Yan Prana Disebut Terima Uang Didalam Mobil Rp30 Juta
Ketiga saksi yang dikonfrontir, Wan Muhammad Yunus saat ini menjabat Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Siak (tengah) Ade Kusendang selaku endahara Pengeluaran 2015 sampai 2017 (kanan) dan Erita Kasubag Umum dan Kepegawaian Bappeda Siak (kiri). (Dok: SC)

Kepala Bappeda Siak Bersaksi, Yan Prana Disebut Terima Uang Didalam Mobil Rp30 Juta

Pekanbaru – Tiga saksi dikonfrontir saat sidang terdakwa Eks Sekdaprov Provinsi Riau, Yan Prana Indra Jaya Rasyid di sidang Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru, Senin, (7/6/2021).

Dihadapan Majelis Hakim Ketua Lilin Herlina dan hakim anggota, 3 (tiga) saksi yang dikonfrontir yaitu Wan Muhammad Yunus saat ini menjabat Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Siak, Ade Kusendang selaku endahara Pengeluaran 2015 sampai 2017 dan Erita Kasubag Umum dan Kepegawaian Bappeda Siak.

JPU Hendri Junaidi dkk menghadirkan ketiga saksi terkait pemotongan uang perjalanan dinas dan pengadaan alat tulis kantor (ATK) di Kanttor Bappeda Siak.

Sebelum dikonfrontir, Lilin Herlina menjelaskan soal uang Rp50-an juta lebih hasil pemotongan perjalanan dinas pegawai dan pengadaan ATK di kantor Bappeda Siak. Setelah terkumpul, sebesar Rp38 juta digunakan untuk modal koperasi dan sisanya diantar terdakwa Yan Prana di depan kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Siak aaat itu.

“Ya. Saya bersama Ade Kusendang antar uang depan pekarangan depan kantor BKD dan Yan Prana menerima uangnya didalam mobil,” ujar saksi Erita membenarkan pertanyaan Hakim Lilin Herlina.

Dilanjutkan ke saksi Wan Muhanmad Yunus kala itu menjabat Sekretaris Bappeda Siak mengaku Yan Prana menyampaikan minta dibantu.

“Waktu itu, Yan Prana menyampaikan minta bantu. Atas permintaan Yan Prana tersebut, saya sampakan ke Erita,” ujar Wan Muhammad Yunus.

Saat Hakim Lilin Herlina mengkonfrontir pengakuan Wan Muhammad Yunus tersebut, Erita membenarkannya.

“Setelah disampaikan pak Wan, saya.sampikan ke Ade soal apa yang disampaikan pak Wan, bahwa Yan Prana minta bantu, Setelah.terkumpul, Erita menyampaikan ke pak Wan,” ujar Erita.

Saat dikonfrontir Hakim perihal yang disampaikan Erita tersebut, Wan mengaku lupa. Hakim Lilin Herlina tampak ‘sewot’ jawaban lupa disampaikan Wan Muhammad Yunus.

“Lupa atau gimana. Kejadiannya belum.lama koq sudah lupa,” ujar Lilin Herlina dengan mimik wajah sedikit emosi.

Hakim anggita lainnya menanyakan lebih jauh jumlah uang yang diterima Yan Prana.

“Jumlah Rp30 juta. Dari saya Rp15 juta. Sedangkan Rp15 juta dari Ade Kusendang,” aku Erita mengiyakan penjelasan Hakim.

Sementaea penasehat hukum Yan Prana, Alhendri Tanjung dan kawan-kawan mencecar Wan Muhammad Yunus atas tafsiran ‘minta bantu’ yang disampaikan klienmya tersebut.

Berulangkali diminta penjelasan terkait itu, Wan Muhammad Yunus hanya bisa menyanpaikan bahasa permintaan mantan atasannya itu. “Pak Yan minta bantu, itu saja,” kata Yan.

“Setelah terkunpul, saya melapor ke pak Wan. Uang terkumpul Rp30 juta itu, sebelumnya jumlahnya disampaikan pak Wan,” ungkap Erita.

Usai dikonfrontir, Yan Prana keberatan atas penjelasan ketiga saksi tersebut.

“Yang Mulia, saya keberatan atas keterangan Erita dan Ade tidak sepintar karena saya selau bersama mereka. Saya keberatan Yang Mulia, apa yang disampaikan Ade, Erita dan pak Wan,” kata Yan Prana.

Selain ketiga saksi tersebut, JPU juga menghadirkan saksi Siswo Sujanto sebagii Ahli Hukum Keuangan Negara dan.Sri Mulyani selaku Ahli auditor Inspektorat Kota Pekanbaru.

1
2
CATEGORIES
TAGS