Home Serambi Tapanuli Taput

Perdagangan Satwa Lindung Senilai Rp1.2 M Digagalkan

Lihat Foto
×
Perdagangan Satwa Lindung Senilai Rp1.2 M Digagalkan

Tarutung - Kepolisian Resort Tapanuli Utara (Taput) bersama Bidang Konserfasi Sumber Daya Alam BKSDA Sumut berhasil mengungkap kasus dugaan tindak pidana kejahatan terhadap organ satwa yang dilindungi dan melakukan penangkapan terhadap dua orang pemiliknya.

"Kami mengamankan dua orang tersangka yang hendak melakukan jual beli organ satwa yang dilindungi," ujar Kapolres Taput AKBP Johanson kepada sejumlah wartawan termasuk satelit.co Selasa (9/8/2022).

Dua tersangka penjual organ tubuh satwa lindung berupa sisik trenggiling dan paroh rangkong gading kata Johanson diamankan dari lokasi berbeda.

"Kedua tersangka kita amankan dari lokasi berbeda. Tersangka penjual sisik trenggiling berisinial LRS (33) diamankan dari kawasan Jalan D.I Panjaitan Tarutung. Sedangkan tersangka penjual Paroh Rangkong Gading berisinial SL diamankan dari kawasan Menara Lonceng Simpang empat Tarutung," ujarnya.

Dari tangan tersangka LRS pihaknya mengamankan 38 kilogram sisik trenggiling kering yang dimasukkan dalam dua karung goni.

"Sementara dari tersangka SL kita berhasil mengamankan sebanyak 10 paroh Rangkong Gading," terangnya.

Penangkapan kedua tersangka ini lanjutnya, dilakukan, atas kerjasama dengan Polda Sumut, Kementerian Lingkugan Hidup dan Kehutanan melalui BKSDA Sumut dan Polres Taput.

Selanjutnya, sisik trenggiling dan paroh Burung Rangkong Gading akan dijual ke Negara Cina dengan harga Rp 43 Juta/kg untuk sisik tranggiling dan Rp 50 juta per satu paroh Burung Rangkong Gading.

"Sehingga total kerigian dari keseluruhan penjualan satwa terlindungi tersebut ditaksir Rp 2,1 M dengan perincian Sisik trenggiling 1,6 M dan paruh burung angkong gading Rp 500 juta,"ujarnya.

Ia mengatakan, bahwa kedua tersangka beserta barang bukti ditahan di Polres  untuk proses penyidikan lebih lanjut.

Keduanya kini dikenai Pasal 21 ayat (2) huruf d Jo. Pasal 40 ayat 2 UU RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dengan ancaman hukuman paling lama 5 tahun penjara dan denda paling banyak Rp100 juta. 


Komentar Via Facebook :