Kondisi Proyek Platform Jembatan Timbang UPPKB Balai Raja Riau Disorot
Dok: ESCO)

Kondisi Proyek Platform Jembatan Timbang UPPKB Balai Raja Riau Disorot

Pekanbaru – Unit Pelaksana Penimbangan Kendaraan Bermotor (UPPKB) secara simbolis serentak beroperasi di seluruh Indonesia dihelat pada 21 April 2017 lalu. Dari 25 UPPKB tersebut, satu diantaranya diantaranya UPPKB di Provinsi Riau, yaitu UPPKB Balai Raja resmi beroperasi.

Namun, untuk Riau peresmian pengoperasina Jembatan Timbangan (JT) di Balai Raja, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis ini, resmi beroperasi pada 2 Agustus 2018 silam.

“Untuk di Riau seharusnya ada 5 Jembatan Timbang yang resmikan, namun yang sudah siap untuk dioperasikan baru tiga jembatn timbang, salah satunya JT Balai Raja. Dua JT lagi masih dalam proses dan segera menyerahkan operasinya,” kata Kepala BPTD S. Aji Pantagama usai meresmikan pengoperasian Jembatan Timbangan pada 2 Agustus 2018 silam.

Penelusuran tim awak Media pada Kamis, 20 Januari 2021 lalu, pengoperasian Jembatan Timbang Balai Raja warisan milik Pemerintah Provinsi Riau, tidaklah banyak mengalami perubahan. Sayang, tidak banyak mendapat informasi lebih jauh kondisi Jembatan Timbang Balai Raja karena Kepala UPPKB Balai Raja tak berada ditempat saat awak Media dilokasi. Mengacu Peraturan Menteri Perhubungan RI No.PM 103 Tahun 2017 tentang Pengaturan dan Pengendalian Kendaraan yang menggunakan Jasa Angkutan Penyeberangan, sepertinya kondisi kelayakan pengoperasian standar sebuah Jembatan Timbang sepertinya jauh dari harapan.

 Dugaan ketidaklayakan tersebut misalnya, hasil pantauan dilapangan Jembatan Timbang Balai Raja tersebut, belum tersedianya lokasi penampungan dan pembongkaran muatan jika ada kendaraan muatan atau truk over load atau kelebihan muatan. Selain itu, area dan luasan lokasi Unit Pelaksana Penimbangan Kendaraan Bermotor (UPPKB) Balai Raja, terlalu sempit. Sehingga, jika dilakukan penindakan hukum terhadap kendaraan over load and over dimensi (ODOL) sulit diterapkan, akan menimbulkan kemacetan luar biasa.

“Kalau kendaraan kelebihan muatan masuk timbangan, selalu terjadi kemacetan memanjang. Ada saya lihat kendaraan truk lebih muatan. Kalau muatan dibongkar, dimana penampungannya,” ujar salah seorang kondektur saat dicegat ketika lokasi Jembatan Timbang Balai Raja, enggan dituliskan namanya ke SATELIT.CO, Kamis, (20/1/2021).

Selain itu, saat berada dilokasi Jembatan Timbangan Balai Raja, ada pembangunan platform jembatan baru dikerjakan namun belum dioperasikan. Petugas jembatan Balai Raja menyampaikan bahwa sejak pekerjaan selesai dikerjakan, tidak tau apa penyebab platform jembatan timbangan sampai sekarang tidak dioperasikan.

“Saya gak tau pak, apa alasan tidak dioperasikan. Baiknya, bapak langsung tanya ke kantor BPTD yang ada di Pekanbaru,” ujar salah seorang petugas UPPKB berinisial S saat awak Media berada dilokasi, Kamis, (20/1/2021).

Sementara, dari pengamatan pekerjaan platform jembatan timbangan Balai Raja tak berlanjut itu, perlu dipertanyakan. Pekerjaan struktur platform telah memiliki standar ketentuan sebuah jembatan timbangan terhadap muatan kendaraan yang akan ditimbang. Misalnya, GT-0603-T020A. Memiliki ukuran 6 meter X 3.4 meter untuk kapasitas 20-40 ton cocok bagi kendaraan tipe Colt. Selanjutnya, GT-0703-T040A memiliki ukuran 7.5 meter X 3.4 meter untuk truk kapasitas 30-50 ton, cocok untuk truk tipe Colt atau Fuso. Kemudian, GT-0903-T040A memiliki ukuran 9 meter X 3.4 meter memiliki kapasitas 30-60 ton dan cocok untuk truk seperti intercooler.

Pembangunan jembatan timbang di Indonesia yang ditawarkan versi perusahaan Getwinn membuat spefisikasi platform Jembatan, bisa saja diterapkan di Jembatan Timbang Balai. Misalnya, pemasangan ship plate hanya memilik jarak 12mm. Jika dibandingkan dengan pembuat ship plat pada platform jembatan timbangan yang baru, dari kasat mata bisa dikatakan terlalu lebar. Pejelasan lain, juga telah ditampilkan berupa foto contoh spesifikasi Getwinn dengan fakta dilapangan.

Lalu, jika petugas melakukan penegakan hukum, semacam tempat berlindung/kanopi jika terik matahari dan musim penghujan. Fakta dilapangan, rencana pembuatan semacam kanopi itu, telah ada tiang pancang telah terpasang. Dari sejumlah fakta-fakta dilapangan, sejumlah pertanyaan muncul. Apakah jembatan timbang Balai Raja sudah dinyatakan layak dan sesuai standar yang diinginkan? Bagaimana dengan pekerjaan platform timbangan Balai Raja, warisan Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD), Aji Panatagama dan Yugo tersebut konon kabarnya menyedot anggaran sebesar Rp1.8 miliar, karena sejumlah fakta pekerjaan diragukan spesifikasi pekerjaannya?

Menanggapi hal tersebut, Kepala Sarana dan Prasana Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Wilayah Provinsi Riau, Ikhwan tidak menampik kondisi Jembatan Timbangan Balai Raja belum sesuai standar ketentuan yang diinginkan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.

“Kalau bicara standar kelayakan, sepertinya Jembatan Timbangan Balai Raja bisa dikatakan belum sesuai standar jika dilihat dari area lokasi, tempat penampungan dan pembongkaran jika dilakukan penegakan hukum terhadap truk over load dan over dimensi (Odol). Luar area Jembatan bisa dikatakan layak areanya dengan ukuran 200 x 100 atau 2 hektar,” ujar Ikhwan saat disambangi awak Media di ruang kerjanya di Kantor BPTD Provinsi Riau, Rabu, (27/1/2021).

Terkait pekerjaan platform jembatan timbangan yang baru dikerjakan belum beroperasi, Ikhwan membantahnya.

“Sudah beroperasi koq. Saat Dirjen Kemenhub turun ke Jembatan Timbang, telah beroperasi. Bahkan, kita dikirimin foto-foto sama petugas dilapangan bahwa platform jembatan baru yang berkapasitas mencapai 60 ton itu, telah beroperasi,” klaim Ikhwan.

Disinggung soal ada dugaan pekerjaan tidak sesuai spesfikasi pekerjaan, Ikhwan tidak mau menanggapi lebih jauh soal itu.

“Kami (BPTD-red) sudah pernah diperiksa pihak Kejaksaan Negeri Bengkalis terkait ada dugaan hal tersebut. Hasil pemeriksaan, tidak ada masalah,” ujar Ikhwan didampingi staf Humas BPTD Provinsi Riau, Yuki. (SC-01)

CATEGORIES
TAGS