Home • Tapanuli Raya • Taput
Proyek Pamsimas Hutapea Banuarea Didanai APBD Plus Mubazir
Kepala Desa Hutapea Banuarea Tarutung, Tapanuli Utara, Hermanto. (Dok: Bernad LG)
Tarutung, satelit.co- Pembangunan Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) berbiaya Rp 300 juta lebih di Desa Hutapea Banuarea Tarutung, Tapanuli Utara menjadi sorotan.
Dana bersumber APBD Sumut plus Dana Desa, ternyata tak berfungsi sama sekali. Proyek yang dibangun sejak 2021 lalu itu, dikeluhkan warga setempat.
"Air bersih yang dijanjikan ke masyarakat tidak pernah mengalir setetespun kerumah warga", kata S Hutapea warga setempat kepada satelit.co Selasa, (4/10/2022).
-
Perlu Dibaca :
LTaput - Gempa di Tarutung berkekuatan 6,0 SR Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), meninggalkan duka dan menimpa sejumlah bangunan alami kerusakan di...
Dikatakanya sejak awal masyarakat atusias, menyambut pembangunan sumber Air bersih tersebut, warga besedia berswadaya tenaga membantu pembangunan itu.
“Sejak awal kita selaku warga sangat berharap jika bangunan itu bermamfaat, tapi sekarang proyek itu sia-sia atau mubazir,” ujar kata Hutapea.
Keluhan warga tersebut diamini Hermanto Hutapea Kepala Desa Hutapea Banuarea Tarutung, Tapanuli Utara.
-
Perlu Dibaca :
Tarutung - Sejumlah nama pegawai pemerintahan seperti Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Tapanuli Utara terdaftar sebagai anggota Partai...
Dia menjelaskan, proyek bernilai Rp245 juta yang dikerjakan pada tahun 2021 ini tidak berfungsi.Padahal anggaran dari desa Rp 80 juta juga dikucurkan.
Selain itu anggaran dikucurkan dari keuangan desa, tenaga dari Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dikerahkan pada saat proyek dikerjakan.
"Saya merasa kecewa, termasuk masyarakat saya juga kecewa" keluh Hermanto.
Dia juga menjelaskan bahwa, proyek Pamsimas pada saat pekerjaannya menggunakan mesin pompa air jenis Hidran yang berharga Rp 70 juta untuk menyedot air dari sumbernya. Selanjutnya, menyalurkan ke recervoar atau bak penampung untuk dialirkan ke rumah-rumah warga.
Namun selesai pekerjaan, kemampuan mesin hidran tak bertahan lama karena beberapa kali telah dilakukan perbaikan sejak dipasang mesin hidran tersebut. Bahkan, mesin hidran yang berukuran besar terpasang sebelumnya, akhirnya diganti menjadi mesin berukuran kecil," ucap Kades.
"Hanya dua minggu bisa berfungsi. Padahal, sudah Rp 80 juta anggaran desa yang digelontorkan," imbuhnya.
Tak hanya itu, Kades Hutapea Banuarea mengaku dirinya membeli mesin pompa air jenis Jet Pump merogok kantong pribadi agar air mengalir terus ke rumah-rumah warga.
Atas kondisi itulah, Hermanto menumpahkan kekecewaanya kepada konsultan Manajemen Balai Prasarana Pemukiman Wilayah (BPPW), Sumut atau Distrik Consultan (DC). Sebab, perencanaan yang dibuat dinilai kurang matang sehingga berakibat Pamsimas tak berfungsi.
Hingga berita ini diturunkan, pihak konsultan perencana pembangunan dan ketua Kelompok Suwadaya Masyarakat (KSM) selaku pihak pengelola dan penerima bantuan belum menanggapi terkait keluhan warga terhadap tak berfungsinya Pasimas tersebut.
Pun, kekecewaan warga tersebut direspon aktivis pemantau pembangunan di Sumatera Utara dan berharap agar diusut proyek Pasimas terkesan dihambur-hamburkanbtak bermanfaat bagi warga setemat.
"Kita sangat menyangkan sikap pihak pengelola dan konsultan yang mengerjakan proyek Pamsimas tersebut lantaran pengerjaannya tidak berfungsi alias mubazir. Untuk itu kita berharap penegak hukum jangan berdiam diri. Tolonglah itu diusut tuntas,” kata Patar L Gaol Civitas Lembaga Pemantau Pembangunan Daerah Sumut menjawab satelit.co, Senin, (3/10/2022).
Tak berfungsinya pembangunan Pamsimas itu lanjut Patar adalah merupakan sebuah bentuk arogansi. Karenaya, pengelola proyek mulai dari konsultan, pengawas hingga kelompok penerima bantuan harus bertanggung jawab.
"Tak masuk akal, bila proyek itu tidak diusut. Masalah ini, kuat terjadi dugaan kerugian negara,” pungkasnya.




Komentar Via Facebook :