Saksi Ungkap Alat Berat Diturunkan ke Lokasi Proyek Turap di Pelalawan Inisiatif Terdakwa
Tiga dari lima saksi yang dihadirkan Jaksa (ki-ka) Ardiansyah, Hariman Siregar dan Teddy Cahyadi pada sidang Tipikor Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru, Rabu, (15/9/2021). (Dok: SC)

Saksi Ungkap Alat Berat Diturunkan ke Lokasi Proyek Turap di Pelalawan Inisiatif Terdakwa

Pekanbaru – Aat berat yang diturunkan ke lokasi proyek turap yang ambas di Danau Tajuid di Danau Tajuid, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan merupakan inisiatif Plt Kadis Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Pelalawan, MD. Rizal. Operator alat berat jenis Long Am dioperasikan oleh Tengku Firda. Selain itu, alat berat long am itu ditongkrongkan di Danau Taujid milik mantan Bupati Pelalawan tersebut.

Hal itu diungkap Ardiansyah Putra selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada proyek turap di Danau Tajuid, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan saat sidang Terdakwa MD. Rizal saat bersaksi di sidang Tipikor Pengadilan Pekanbaru, Rabu, (14/9/2021).

“Saat penyidik Kejati turun di lokasi proyek Turap yang roboh, Plt Kadis PUPR, MD. Rizal menyampaikan bahwa alat berat jenis Long Am diturunkan dan pengerukan sungai dilakukan merupakan atas inisiatif sendiri,” ujar Ardiansyah dan menyebutkan ia ketahui tumbangnya turap tersebut atas informasi dari rekanan. Pun, Ardiansyah mengatakan tidak tahu lagi perkembangan proyek saat dirinya dinonjobkan awal Desember 2020.

Keterangan Ardiansyah pun tak dibantah mantan Plt Kadis PUPR Pelalawan, MD. Rizal saat dikonfrontir Hakim usai kesaksian Ardiansyah.

Kemudian, Ardiansyah mengungkap, bahwa proyek Turap di Danau Tajuid dikerjakan PT. Raja Oloan dengan nilai kontrak Rp 6 miliar lebih itu, sesuai dengan spesifikasi kontrak dan soft drawing pekerjaan saat di PHO-kan pada Februari 2020.

“Saat di PHO-kan, pekerjaan proyek Turap sesuai spesifikasi dan tak ada masalah. Saya tidak pernah tahu dan ditelepon atas kejadian turap amblas oleh Plt. Kadis MD. Rizal,” kata Ardiansyah.

Diketahui, PT. Raja Oloan telah menuntaskan proyek Turap dengan progres pekerjaan 35 persen dan telah dibayarkan Rp2.4 miliar tersebut. Namun, setelah di PHO-kan, sisa pekerjaan 65 persen yang telah dikerjakan seratus persen tak dibayarkan atas rekom inspektorat berdasarkan hasil joint audit Unilak.

“Belum dibayarnya sisa progres kerja proyek 65 persen itu, karena hasil Join Audit yang tidak bisa dihitung. Saya juga bingung, atas hasil audit tersebut,” kata Ardiansyah.

Turap Dirusak
Sementara, Dirut PT. Raja Oloan, Hariman Tua Dibata Siregar menerangkan bahwa dirinya mendapat informasi bahwa turap roboh atas informasi anggotanya.

Saat turun dilokasi pada 10 September 2020, kata Hariman, tiang pancang (sheetpile) masih bagus. Namun, sambung Hariman, berselang beberapa hari tepatnya pada 13 September 2020, ada laporan turap dirusak dan tumbang. Dilokasi proyek turap, pengerukan dilakukan persis ditepi turap dan diperkirakan sungai dikeruk dengan kedalaman 1 hingga 2 meter. Panjang proyek turap yang tumbang sekitar 20 meter dari panjang 200 meter yang dikerjakan PT. Raja Oloan tersebut.

“Tujuannya, seolah-olah turap tumbang, dan alasan alasan tidak dibayarkan sisa progres yang telah selesai dikerjakan Padahal, proyek sudah di PHO-kan. Karena sisa progres 65 belum bayar, tentu kami belum FHO-kan,” terang Hariman.

Sidang lanjutan terdakwa MD.Rizal, Jaksa menghadirkan 5 (lima) saksi. Dari pihak rekanan PT. Raja Oloan, saksi dihadirkan yaitu Hariman Tua Dibata Siregar selaku Dirut PT. Raja Oloan, dua pegawainya Rikkot Harahap, Zupri. Dua saksi lainnya, PPK proyek Turap, Ardiansyah Putra dan Teddy Cahyadi selaku marketing PT. Citra Lautan Teduh. (SC-01).

CATEGORIES
TAGS